JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Senin, 17 Maret 2025 waktu setempat atau Selasa, 18 Maret 2025. Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap kelompok militan Houthi di Yaman.
Harga Minyak Naik Hingga 0,7 Persen
Berdasarkan laporan Investing.com, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2025 naik sebesar 40 sen atau sekitar 0,6 persen, menjadi USD67,58 per barel di New York Mercantile Exchange.
Baca JugaTarif Listrik PLN Stabil April–Juni 2026 Meski Krisis Energi Global Melanda Dunia
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei 2025 meningkat sebesar 49 sen atau sekitar 0,7 persen, mencapai USD71,07 per barel di London ICE Futures Exchange. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap ketegangan geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Serangan AS Targetkan Houthi di Dua Wilayah
Serangan udara AS menargetkan dua titik utama yang dikuasai kelompok Houthi. Berdasarkan laporan televisi Masirah yang dikelola oleh Houthi, serangan tersebut menghantam kota pelabuhan Hodeidah yang terletak di Laut Merah, serta provinsi Al Jawf di bagian utara ibu kota Yaman, Sanaa.
Ketegangan antara AS dan kelompok Houthi telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Washington menuding kelompok ini bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal dagang di wilayah Laut Merah. Serangan terhadap jalur perdagangan ini dikhawatirkan akan berdampak pada suplai minyak global, sehingga mendorong harga minyak naik.
AS Tuding Iran Berperan dalam Konflik
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan yang dilakukan oleh Houthi. "Iran harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan oleh kelompok yang mereka dukung di Yaman. Kami tidak akan tinggal diam jika kepentingan AS dan sekutunya terganggu," ujar Trump dalam pernyataannya.
Sikap AS yang semakin tegas terhadap Iran dan sekutunya di Timur Tengah membuat pasar minyak global semakin bergejolak. Investor khawatir bahwa eskalasi konflik dapat mengganggu pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Dampak bagi Pasar Energi Global
Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah kondisi pasar energi yang masih belum stabil. Para analis memperkirakan bahwa ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat menyebabkan lonjakan harga lebih tinggi dalam beberapa pekan mendatang.
"Setiap ketidakpastian yang muncul dari kawasan ini selalu berdampak pada harga minyak. Jika situasi semakin memburuk, kita bisa melihat harga minyak kembali ke level USD75 per barel atau lebih," kata John Peterson, analis energi dari Global Oil Research.
Selain itu, pasar juga terus memantau kebijakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya terkait produksi minyak global. OPEC+ sebelumnya telah berkomitmen untuk menjaga keseimbangan pasokan guna menghindari volatilitas harga yang terlalu tajam.
Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh serangan AS terhadap kelompok Houthi di Yaman menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap ketegangan geopolitik. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi di Timur Tengah, investor dan pelaku industri energi terus mencermati perkembangan lebih lanjut yang dapat mempengaruhi dinamika harga minyak dalam beberapa waktu ke depan.
Nathasya Zallianty
wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Resep Sambal Dabu-Dabu Khas Manado, Cocok Untuk Hidangan Laut Favorit
- Senin, 30 Maret 2026
Berita Lainnya
Update Lengkap Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026 di Seluruh Indonesia
- Senin, 30 Maret 2026
Tarif Listrik PLN Triwulan II Tahun 2026 Tetap, Simak Cara Hitung Token Efisien
- Senin, 30 Maret 2026
Inilah 5 Pilihan Rumah Subsidi Murah di Majalengka yang Cocok Untuk Keluarga Muda
- Senin, 30 Maret 2026












