Rabu, 04 Februari 2026

Strategi Adira Finance Meningkatkan Pembiayaan dan Optimisme Ekonomi Indonesia 2026

Strategi Adira Finance Meningkatkan Pembiayaan dan Optimisme Ekonomi Indonesia 2026
Strategi Adira Finance Meningkatkan Pembiayaan dan Optimisme Ekonomi Indonesia 2026

JAKARTA - Industri multifinance menghadapi tantangan akibat ketidakpastian ekonomi belakangan ini. Namun, Adira Finance tetap optimis bahwa kondisi perekonomian pada 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025.

Direktur Penjualan, Pelayanan, dan Distribusi Adira Finance, Niko Kurniawan, berharap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi membaik tahun ini. Ia meyakini perbaikan ekonomi akan berdampak langsung pada kelancaran pembayaran pembiayaan.

“Kami selalu optimis. Semoga ekonomi membaik karena yang paling penting itu ekonomi. Apabila daya beli masyarakat bagus, tentu pembayarannya akan lancar,” kata Niko saat ditemui di Jakarta Selatan, Minggu, 1 Februari 2026.

Baca Juga

Cara Cek Angsuran Adira Finance dengan Nomor Kontrak, Praktis & Cepat!

Selain itu, Niko menambahkan bahwa biaya dana atau cost of fund juga diharapkan lebih rendah. Penurunan biaya dana dapat memperkuat penyaluran pembiayaan ke konsumen secara lebih luas.

Target Pertumbuhan dan Tantangan Pasar Otomotif

Untuk 2026, Adira Finance menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 10%-12%. Target ini menunjukkan ambisi perusahaan untuk tetap bertumbuh meski kondisi pasar masih menantang.

Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani, menyebut pasar otomotif menjadi tantangan utama tahun ini. Ia berharap sektor otomotif bisa pulih secara bertahap sehingga mendukung pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 4%-6%.

Gani menegaskan, penyaluran pembiayaan secara keseluruhan tetap diupayakan di atas 10%. “Jadi, kami ingin menjaga tetap di atas 10%, walaupun situasinya masih harus wait and see juga,” ucapnya.

Ekspansi dan Integrasi Strategis ke Luar Pulau Jawa

Adira Finance berupaya memanfaatkan keunggulan perusahaan untuk penetrasi pembiayaan lebih luas. Salah satunya melalui integrasi jaringan hingga ke luar Pulau Jawa.

Langkah ini juga diperkuat melalui akuisisi Mandala Finance, yang memiliki basis bisnis besar di Indonesia Timur. Integrasi ini diharapkan meningkatkan penetrasi pembiayaan motor dan dana tunai di wilayah tersebut.

“Secara geografi, (Mandala Finance) luar Pulau Jawa itu 50%. Jadi, kami integrasi networking mereka yang cukup banyak. Semoga kami bisa lebih melakukan penetrasi yang lebih besar lagi di segmen sepeda motor dan dana tunai,” kata Gani.

Ekspansi ke wilayah luar Jawa juga memperluas jangkauan layanan Adira Finance. Hal ini sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan pangsa pasar di segmen non-otomotif.

Kinerja Solid Adira Finance pada 2025

Pada 2025, Adira Finance menunjukkan pertumbuhan pembiayaan yang solid. Pertumbuhan ini didorong kontribusi pembiayaan non-otomotif dan penggabungan usaha dengan Mandala Finance.

Menurut Gani, pertumbuhan pembiayaan Adira Finance pada 2025 mencapai 18% secara Year on Year (YoY). Perhitungan ini sudah termasuk dampak integrasi dengan Mandala Finance, yang menambah kekuatan di segmen non-otomotif.

Sepanjang 2025, Adira Finance menyalurkan pembiayaan sebesar Rp43 triliun. Total piutang pembiayaan tercatat Rp61 triliun, dengan tingkat Non Performing Financing (NPF) hanya 2%.

Angka NPF tersebut berada di bawah rata-rata industri yang tercatat 2,44% per November 2025. Kondisi ini menunjukkan manajemen risiko Adira Finance lebih terkendali dibandingkan industri pada umumnya.

Keberhasilan di 2025 menjadi modal penting bagi perusahaan untuk menghadapi tahun 2026. Dengan target pertumbuhan dobel digit, Adira Finance berupaya memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi.

Selain itu, kombinasi pembiayaan otomotif dan non-otomotif diharapkan semakin memperkuat kinerja perusahaan. Ekspansi ke wilayah baru dan integrasi Mandala Finance menjadi strategi jangka panjang yang fokus pada penetrasi pasar lebih luas.

Dengan strategi ini, Adira Finance optimis dapat mendorong pertumbuhan pembiayaan sekaligus menjaga kualitas aset. Fokus perusahaan tidak hanya pada kuantitas penyaluran, tetapi juga stabilitas dan kesehatan portofolio pembiayaan.

Upaya ini sejalan dengan harapan manajemen agar ekonomi membaik dan daya beli masyarakat meningkat. Kombinasi optimisme pasar, strategi ekspansi, dan efisiensi biaya dana diyakini dapat mendukung pencapaian target di tahun 2026.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Indonesia Siap Ambil Peran Strategis dan Alokasikan Anggaran untuk Perdamaian Gaza

Indonesia Siap Ambil Peran Strategis dan Alokasikan Anggaran untuk Perdamaian Gaza

Pemeriksaan Laporan Keuangan 2025 Tiga Kementerian Strategis Ditekankan BPK

Pemeriksaan Laporan Keuangan 2025 Tiga Kementerian Strategis Ditekankan BPK

Presiden Prabowo Resmi Ubah Aturan Dagang Nasional dan Penjualan Langsung Secara Signifikan

Presiden Prabowo Resmi Ubah Aturan Dagang Nasional dan Penjualan Langsung Secara Signifikan

OJK Luncurkan Aturan Baru untuk Perkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan di Indonesia

OJK Luncurkan Aturan Baru untuk Perkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan di Indonesia

Desa Wisata Binaan BCA Raih Penghargaan Bergengsi Pariwisata Berkelanjutan Tingkat ASEAN

Desa Wisata Binaan BCA Raih Penghargaan Bergengsi Pariwisata Berkelanjutan Tingkat ASEAN