Rabu, 01 April 2026

Harga Nikel Naik 24 Persen, Saham Emiten Terkait Lanjutkan Tren Positif

Harga Nikel Naik 24 Persen, Saham Emiten Terkait Lanjutkan Tren Positif
Harga Nikel Naik 24 Persen, Saham Emiten Terkait Lanjutkan Tren Positif

JAKARTA - Mayoritas saham emiten produsen nikel menunjukkan penguatan harga di awal Januari 2026. Lonjakan ini sejalan dengan tren penguatan harga nikel di pasar global yang terus meningkat.

Mengutip Trading Economics, harga nikel pada Rabu, 7 Januari 2026, siang berada di level US$ 18.506 per ton. Angka ini menandai kenaikan 24,33% dalam sebulan terakhir dan menjadi level tertinggi sejak pertengahan Desember 2025.

Sebelum periode kenaikan ini, harga nikel lebih sering berada di kisaran US$ 15.000 per ton. Bahkan, pada awal Desember 2025, harga sempat terkoreksi hingga level US$ 14.000 per ton.

Baca Juga

Strategi Pemerintah Pastikan Ketersediaan BBM dan Gas Selama Libur Idul Fitri 2026 Tetap Aman

Lonjakan harga komoditas ini memicu perhatian investor dan analis pasar. Kenaikan yang stabil sejak Desember menandakan permintaan nikel yang terus meningkat di pasar global.

Dampak Lonjakan Harga Nikel terhadap Saham Emiten

Sejumlah saham emiten nikel mencatat penguatan harga signifikan pada perdagangan intraday Rabu, 7 Januari 2026. Penguatan ini terlihat pada saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang melesat 13,33% ke level Rp6.375 per saham.

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel juga mengalami kenaikan 8,46% menjadi Rp1.410 per saham. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 4,55% ke Rp690 per saham.

Sementara itu, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatat penguatan 3,12% menjadi Rp990 per saham. Lonjakan harga saham emiten nikel ini menunjukkan respons positif pasar terhadap kenaikan harga komoditas.

Namun, tidak semua saham bergerak positif. PT PAM Mineral Tbk (NICL) justru melemah tipis 0,27% ke level Rp1.835 per saham. Saham NICL tengah dalam pengawasan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan berstatus Unusual Market Activity (UMA).

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Nikel

Kenaikan harga nikel dipicu oleh permintaan global yang meningkat pesat. Industri baterai kendaraan listrik dan logam dasar menjadi sektor utama yang mendorong kebutuhan nikel.

Selain itu, pasokan nikel yang terbatas akibat produksi dan distribusi yang terkendala memperkuat tekanan harga. Kondisi ini membuat investor memperkirakan harga nikel akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Kenaikan harga ini juga memengaruhi sentimen positif terhadap saham emiten nikel di bursa. Investor melihat potensi keuntungan lebih besar dari produksi dan penjualan nikel di tengah harga global yang tinggi.

Analisis Respons Pasar terhadap Saham Nikel

Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan 13,33% pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026. Penguatan ini menunjukkan optimisme investor terhadap prospek kinerja perusahaan di tengah tren harga nikel naik.

Harita Nickel (NCKL) juga memperoleh respons positif pasar dengan penguatan 8,46%. Hal ini menunjukkan investor memperhitungkan keuntungan dari produksi nikel yang meningkat.

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengalami kenaikan 4,55%, sedangkan DKFT naik 3,12% per saham. Tren penguatan ini menunjukkan korelasi yang kuat antara harga komoditas nikel dan pergerakan saham emiten produsen.

Sebaliknya, saham NICL yang melemah 0,27% menunjukkan bahwa pasar tetap selektif. Status UMA menunjukkan adanya pengawasan khusus dari BEI untuk menjaga transparansi dan mencegah manipulasi harga saham.

Prospek Pasar Nikel dan Saham Emiten

Dengan tren kenaikan harga nikel sejak Desember 2025, prospek jangka pendek terlihat positif. Investor dan analis pasar memperkirakan permintaan global akan tetap kuat, terutama dari sektor kendaraan listrik dan industri baterai.

Harga nikel yang stabil di atas US$ 18.000 per ton menjadi indikator kuat bagi emiten produsen. Saham-saham seperti INCO, NCKL, MBMA, dan DKFT diperkirakan akan terus menjadi perhatian pasar.

Namun, investor tetap perlu mewaspadai fluktuasi harga global yang dapat memengaruhi saham. Kondisi pasar komoditas yang volatil menuntut strategi investasi yang hati-hati agar risiko dapat diminimalkan.

Dengan informasi ini, masyarakat investor dapat lebih mudah memantau pergerakan saham emiten nikel. Pemahaman terhadap hubungan harga komoditas dan saham menjadi kunci pengambilan keputusan investasi yang tepat.

Kenaikan harga nikel juga diharapkan mendorong pertumbuhan industri terkait di dalam negeri. Dampak positifnya bisa terlihat dari peningkatan kinerja emiten, pendapatan negara, dan peluang lapangan kerja di sektor nikel.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PLTP Ulumbu di Manggarai: Energi Bersih Mengubah Kehidupan Sosial dan Ekonomi Warga

PLTP Ulumbu di Manggarai: Energi Bersih Mengubah Kehidupan Sosial dan Ekonomi Warga

Strategi Transisi Energi Berkelanjutan di Indonesia Menuju Net Zero Emission 2050

Strategi Transisi Energi Berkelanjutan di Indonesia Menuju Net Zero Emission 2050

5 Rumah Murah di Parung Panjang Bogor Mulai Rp150 Jutaan, Dekat Akses Jakarta

5 Rumah Murah di Parung Panjang Bogor Mulai Rp150 Jutaan, Dekat Akses Jakarta

Koperasi Desa Merah Putih Kini Hadirkan Pos Pengaduan Perempuan dan Anak di Seluruh Indonesia

Koperasi Desa Merah Putih Kini Hadirkan Pos Pengaduan Perempuan dan Anak di Seluruh Indonesia

Menaker Tegaskan Sanksi Tegas bagi Perusahaan yang Menunggak Pembayaran THR Pekerja

Menaker Tegaskan Sanksi Tegas bagi Perusahaan yang Menunggak Pembayaran THR Pekerja