Kamis, 15 Januari 2026

Awal Puasa Sering Terasa Melelahkan, Ini Penjelasan Lengkap Penyebabnya dan Cara Tubuh Beradaptasi

Awal Puasa Sering Terasa Melelahkan, Ini Penjelasan Lengkap Penyebabnya dan Cara Tubuh Beradaptasi
Awal Puasa Sering Terasa Melelahkan, Ini Penjelasan Lengkap Penyebabnya dan Cara Tubuh Beradaptasi

JAKARTA - Memasuki hari-hari pertama puasa Ramadan, banyak orang terkejut karena tubuh terasa jauh lebih cepat lelah dibanding hari biasa. Kondisi ini sering muncul meski aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, dan beribadah tetap dijalani seperti sebelumnya.

Perubahan energi yang menurun di awal puasa kerap memunculkan pertanyaan tentang kondisi kesehatan tubuh. Padahal, fenomena ini merupakan respons alami tubuh yang sedang menyesuaikan diri dengan pola hidup baru.

Pada masa awal puasa, rutinitas harian mengalami pergeseran cukup signifikan. Jadwal makan, waktu minum, pola tidur, hingga intensitas aktivitas fisik ikut berubah secara bersamaan.

Baca Juga

Ketombe Bukan Sekadar Masalah Rambut, Ini Sinyal Kulit Kepala Tidak Seimbang

Tubuh membutuhkan waktu untuk menata ulang sistem kerjanya agar tetap seimbang. Proses adaptasi inilah yang sering memunculkan rasa lelah, kurang fokus, dan energi yang cepat terkuras.

Jika tidak dipahami dengan baik, rasa lelah ini bisa mengganggu produktivitas dan kenyamanan selama menjalani ibadah. Oleh karena itu, penting mengetahui faktor-faktor utama yang menyebabkan tubuh terasa lemas di awal puasa.

Dengan memahami penyebabnya, strategi menjaga stamina dapat disiapkan lebih tepat. Adaptasi tubuh pun bisa berjalan lebih ringan dan terkendali sepanjang Ramadan.

Penurunan Gula Darah Sebagai Sumber Energi Utama

Saat berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah menurun lebih cepat dibandingkan hari normal.

Gula darah berperan sebagai bahan bakar utama bagi otak dan otot. Ketika kadarnya turun drastis, tubuh merespons dengan rasa lemas dan kesulitan berkonsentrasi.

Pada awal puasa, mekanisme tubuh dalam memanfaatkan cadangan energi belum bekerja optimal. Akibatnya, penurunan gula darah terasa lebih berat dan memicu kelelahan lebih cepat.

Otak yang kekurangan suplai energi akan menurunkan performa kognitif. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa mengantuk dan sulit fokus di siang hari.

Seiring waktu, tubuh akan belajar menggunakan cadangan energi secara lebih efisien. Namun, fase adaptasi ini memang memerlukan beberapa hari pertama puasa.

Selama masa penyesuaian, menjaga pola sahur yang tepat menjadi sangat penting. Asupan yang seimbang membantu menstabilkan gula darah lebih lama.

Dehidrasi yang Sering Tidak Disadari

Selain energi, cairan tubuh juga memainkan peran besar dalam menjaga stamina. Kurangnya asupan air dari sahur hingga berbuka menjadi pemicu utama rasa lelah di awal puasa.

Dehidrasi ringan saja sudah cukup membuat tubuh terasa lemah dan pusing. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari karena tidak selalu menimbulkan rasa haus berlebihan.

Ketika cairan tubuh berkurang, aliran oksigen dan nutrisi ke otak serta otot menjadi kurang optimal. Akibatnya, tubuh lebih cepat kehilangan tenaga dan terasa lesu.

Rasa lelah akibat dehidrasi biasanya muncul di siang hingga sore hari. Hal ini semakin terasa jika aktivitas fisik tetap dilakukan seperti biasa.

Oleh karena itu, pemenuhan cairan di malam hari menjadi faktor krusial selama Ramadan. Minum air putih secara bertahap membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Kebiasaan ini mendukung fungsi organ tetap berjalan normal. Dengan cairan yang cukup, tubuh lebih siap menghadapi perubahan rutinitas puasa.

Pola Tidur yang Berubah dan Kualitas Istirahat

Perubahan jadwal tidur menjadi tantangan tersendiri di bulan puasa. Bangun lebih awal untuk sahur dan tidur lebih larut karena ibadah malam sering mengurangi waktu istirahat.

Bukan hanya durasi tidur yang berkurang, kualitas tidur pun sering menurun. Tidur yang terputus-putus membuat tubuh sulit mencapai fase pemulihan optimal.

Kurang tidur berdampak langsung pada tingkat energi harian. Tubuh menjadi lebih mudah lelah meski aktivitas tidak terlalu berat.

Rasa kantuk di pagi dan siang hari menjadi keluhan umum di awal puasa. Hal ini terjadi karena ritme sirkadian tubuh sedang beradaptasi.

Jika kondisi ini dibiarkan, kelelahan bisa menumpuk dari hari ke hari. Akibatnya, stamina menurun dan daya tahan tubuh ikut terpengaruh.

Menjaga konsistensi jam tidur dan memanfaatkan waktu istirahat dengan bijak sangat membantu. Penyesuaian kecil dapat memberikan dampak besar pada energi tubuh.

Pola Makan yang Kurang Seimbang

Pilihan makanan saat sahur dan berbuka sangat menentukan kondisi energi tubuh. Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak sering dianggap solusi cepat mengembalikan tenaga.

Namun, makanan jenis ini hanya memberikan lonjakan energi sesaat. Setelah itu, energi akan turun drastis dan memicu rasa lemas.

Gorengan dan makanan manis juga memperberat kerja pencernaan. Tubuh membutuhkan energi ekstra untuk memprosesnya, sehingga kelelahan justru meningkat.

Di awal puasa, metabolisme tubuh masih dalam tahap penyesuaian. Pola makan yang tidak seimbang akan memperparah proses adaptasi ini.

Asupan gizi yang tepat membantu menjaga kestabilan energi lebih lama. Kombinasi karbohidrat kompleks, protein, dan serat menjadi kunci utama.

Dengan pola makan yang teratur dan seimbang, tubuh dapat beradaptasi lebih cepat. Rasa lelah pun berangsur berkurang seiring berjalannya waktu.

Aktivitas Fisik dan Pola Istirahat yang Kurang Tepat

Banyak orang memilih mengurangi aktivitas fisik karena takut kehabisan energi. Padahal, terlalu sedikit bergerak justru membuat tubuh terasa lebih lesu.

Kurangnya aktivitas fisik memperlambat sirkulasi darah. Kondisi ini menyebabkan distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh tidak optimal.

Selain itu, kebiasaan tidur siang yang terlalu lama juga bisa berdampak negatif. Tidur di waktu yang tidak tepat dapat mengganggu pola tidur malam.

Akibatnya, tubuh tetap merasa lelah meski sudah beristirahat cukup lama. Siklus ini sering terjadi di awal puasa tanpa disadari.

Aktivitas fisik ringan justru membantu menjaga energi tubuh. Gerakan sederhana dapat meningkatkan aliran darah dan menjaga kebugaran.

Mengatur waktu istirahat dengan bijak membantu tubuh pulih lebih efektif. Keseimbangan antara bergerak dan beristirahat menjadi kunci penting.

Rasa lelah di awal puasa merupakan hal yang wajar dan alami. Kondisi ini menandakan tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan pola hidup.

Perubahan jadwal makan, cairan, tidur, dan aktivitas memang membutuhkan waktu. Proses ini berbeda pada setiap orang tergantung kebiasaan sebelumnya.

Dengan memahami penyebab kelelahan, pengaturan gaya hidup bisa dilakukan lebih bijak. Langkah ini membantu menjaga stamina dan kenyamanan selama Ramadan.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Perawatan Diri Sering Diremehkan Padahal Menentukan Kesehatan Mental dan Kualitas Hidup

Perawatan Diri Sering Diremehkan Padahal Menentukan Kesehatan Mental dan Kualitas Hidup

Susu Oat Kini Jadi Pilihan Populer Pengganti Susu Sapi dengan Segudang Manfaat Kesehatan

Susu Oat Kini Jadi Pilihan Populer Pengganti Susu Sapi dengan Segudang Manfaat Kesehatan

Teh Hijau Bukan Sekadar Minuman Hangat, Ini Khasiat Lengkapnya bagi Kesehatan Tubuh

Teh Hijau Bukan Sekadar Minuman Hangat, Ini Khasiat Lengkapnya bagi Kesehatan Tubuh

Perut Nyeri Usai Lari Kerap Terjadi, Ini Penjelasan Normalitas dan Cara Menghindarinya

Perut Nyeri Usai Lari Kerap Terjadi, Ini Penjelasan Normalitas dan Cara Menghindarinya

Makanan Tinggi Protein Jadi Fondasi Penting Kesehatan Tubuh di Segala Usia

Makanan Tinggi Protein Jadi Fondasi Penting Kesehatan Tubuh di Segala Usia