Industri Keramik Nasional Siap Bangkit dengan Investasi Baru dan Kebijakan Pemerintah
- Kamis, 15 Januari 2026
JAKARTA - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menegaskan optimisme kebangkitan industri keramik nasional melalui roadmap pengembangan jangka panjang. Rencana ini diumumkan saat Rapat Umum Anggota (RUA) Asaki di Jakarta pada 13 Januari 2026, yang kembali menobatkan Edy Suyanto sebagai Ketua Umum periode 2026–2029.
Edy memaparkan rencana investasi baru sekitar Rp 5 triliun. Ekspansi tersebut diproyeksikan menambah kapasitas produksi 70 juta meter persegi per tahun dan menyerap 3.500 tenaga kerja baru.
“Dengan sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku industri, kami yakin industri keramik nasional tidak hanya bangkit, tetapi juga menjadi pemain utama di kawasan,” ungkap Edy melalui keterangan tertulis pada Rabu, 14 Januari 2026.
Baca JugaKeterlambatan RKAB 2026 Picu Ketidakpastian Pasar Alat Berat Nasional
Asaki menargetkan utilisasi produksi keramik nasional mencapai 80% pada 2026. Angka ini diproyeksikan sebagai level tertinggi dalam satu dekade terakhir, didorong oleh kombinasi kapasitas produksi, kebijakan pemerintah pro-industri, dan pertumbuhan konsumsi domestik.
Dukungan Kebijakan Pemerintah Dorong Pertumbuhan
Dorongan kebijakan strategis pemerintah menjadi faktor utama kebangkitan industri keramik. Kebijakan tersebut mencakup bea masuk anti-dumping dan safeguard keramik, Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk keramik, serta program pembangunan 3 juta unit rumah.
Selain itu, pemerintah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sektor properti. Penurunan suku bunga perbankan dan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 350.000 unit rumah juga menjadi stimulus tambahan bagi industri.
“Asaki menilai kebangkitan industri keramik tak lepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah. Kebijakan tersebut diyakini mampu mendongkrak permintaan keramik domestik secara signifikan,” ujar Edy.
Dengan adanya dukungan ini, Asaki menargetkan pemanfaatan kapasitas keramik nasional lebih optimal. Tahun 2026 kapasitas terpasang diproyeksikan mencapai 672 juta meter persegi per tahun, naik ke 701 juta meter persegi pada 2027, dan 720 juta meter persegi pada 2029.
Tantangan Pasokan dan Tekanan Impor
Di balik optimisme, industri keramik menghadapi sejumlah tantangan krusial. Pertama adalah krisis pasokan gas industri, di mana industri di Jawa Barat hanya menerima 60%, sementara Jawa Timur sekitar 50%–55% dari HGBT US$ 7 per MMBTU.
Kekurangan ini harus diimbangi dengan pembelian gas tambahan dengan harga mahal hingga US$ 15,4 per MMBTU. Hal ini menekan daya saing dan utilisasi produksi.
Tantangan kedua datang dari lonjakan impor keramik. Sepanjang 2025, impor dari India naik 55%, Vietnam naik 32%, dan Malaysia melonjak 210%, menimbulkan tekanan kompetitif bagi produsen domestik.
Asaki pun akan bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menyelidiki dugaan dumping. “Kami akan bekerja sama dengan KADI untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap India pada semester I-2025, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia,” ungkap Edy.
Tantangan ketiga terkait bahan baku tanah liat. Pencabutan izin tambang di Jawa Barat menyebabkan gangguan pasokan. Sementara itu, usulan pemindahan pintu masuk impor ke luar Pulau Jawa juga menjadi fokus Asaki untuk melindungi industri domestik.
Selain ubin keramik, industri tableware juga mendapat perhatian. Saat ini, utilisasi produksi tableware masih di bawah 50% akibat serbuan produk impor China yang diduga dumping dan ilegal.
“Asaki mendukung penuh kebijakan sertifikasi halal untuk produk tableware sebagai instrumen non-tariff barrier. Hal ini sekaligus melindungi konsumen sekaligus industri nasional,” tambah Edy.
Prospek Industri dan Potensi Ekspansi
Kinerja industri keramik nasional membaik pada 2025. Rata-rata utilisasi produksi meningkat dari 66% pada 2024 menjadi 73% pada 2025, mendongkrak volume produksi menjadi 474,5 juta meter persegi, tumbuh sekitar 15% dibanding tahun sebelumnya.
“Indonesia adalah satu-satunya negara produsen keramik yang mampu mencatat pertumbuhan tingkat utilisasi produksi dan kapasitas produksi pada 2025,” kata Edy saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa, 6 Januari 2026.
Asaki melihat peluang utilisasi bisa menembus 90% jika permintaan domestik meningkat signifikan. Pasar domestik memang menjadi andalan, karena kontribusi ekspor masih rendah, yakni hanya 3%–4% dari total produksi.
Edy menyoroti Program 3 juta unit rumah sebagai potensi terbesar. Jika program ini terealisasi, industri keramik nasional bisa mencapai utilisasi hingga 96%.
Meski begitu, Edy tetap mencatat sejumlah tantangan struktural yang membayangi industri. Pasokan gas, tekanan impor, bahan baku, dan logistik menjadi isu yang harus diatasi agar industri keramik nasional tetap kompetitif.
Dengan roadmap yang jelas, dukungan pemerintah, dan strategi penguatan industri domestik, Asaki yakin industri keramik Indonesia tidak hanya bertahan tetapi juga mampu menjadi pemain utama di kawasan.
Industri keramik nasional kini berada di persimpangan peluang dan tantangan. Sinergi pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci bagi pertumbuhan yang berkelanjutan hingga 2029 dan seterusnya.
Nathasya Zallianty
wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
10 Restoran Bintang 5 di Surabaya yang Wajib Dikunjungi Pecinta Kuliner Premium
- Kamis, 15 Januari 2026
Panduan Kuliner Berat di Malang yang Wajib Dicoba Bagi Pecinta Makanan
- Kamis, 15 Januari 2026
Menikmati Bakso Legendaris di Malang yang Wajib Dicoba Setiap Pecinta Kuliner
- Kamis, 15 Januari 2026
Berita Lainnya
Pemerintah Siapkan Perpres untuk Penugasan Pertamina Impor Migas Amerika Serikat
- Kamis, 15 Januari 2026
Kementerian ESDM Respons Positif Kajian KPK soal Impor Migas Pertamina dari AS
- Kamis, 15 Januari 2026
KKP Siapkan Bantuan Kapal dan Dukungan Teknis untuk Nelayan Terdampak Banjir di Sumatera
- Kamis, 15 Januari 2026













