Kamis, 05 Februari 2026

Surplus Dagang Indonesia Bertahan, Penurunan Ekspor Jadi Tantangan Ekonomi

Surplus Dagang Indonesia Bertahan, Penurunan Ekspor Jadi Tantangan Ekonomi
Surplus Dagang Indonesia Bertahan, Penurunan Ekspor Jadi Tantangan Ekonomi

JAKARTA - Ekspor Indonesia pada November 2025 tercatat menurun sebesar 6,6% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Nilai ekspor turun dari US$24,11 miliar menjadi US$22,52 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan terhadap komoditas nonmigas.

Secara kumulatif, ekspor selama Januari–November 2025 justru meningkat 5,61%. Hal ini menunjukkan pertumbuhan tahunan tetap positif meski kontraksi bulanan terjadi. Penurunan ekspor nonmigas menjadi faktor utama kontraksi bulanan yang tercatat.

Baca Juga

Strategi Terbaru Pemerintah Perkuat Pendampingan UMK Menuju Wajib Halal 2026

Ekspor nonmigas pada bulan November 2025 mencapai US$21,64 miliar. Angka ini turun 5,09% secara tahunan. Sementara ekspor migas tercatat US$880 juta, lebih rendah dibandingkan nonmigas.

Faktor Penurunan dan Tren Pasar

Penurunan ekspor sejalan dengan perlambatan permintaan global terhadap beberapa komoditas unggulan. Komoditas nonmigas menjadi sektor yang paling terdampak. Kondisi ini memengaruhi kinerja bulanan dan menjadi perhatian bagi pelaku industri.

Yield harga komoditas ekspor, seperti batubara dan gas, tercatat naik. Namun kenaikan tersebut belum cukup untuk menahan kontraksi ekspor. Hal ini disebabkan volume ekspor yang turun di bulan tersebut.

Hari kerja yang lebih sedikit di bulan November juga memengaruhi kinerja ekspor dan impor. Efek kalender ini berdampak pada volume pengiriman barang. Meski demikian, harga komoditas masih menjadi penopang nilai ekspor.

Proyeksi Surplus Neraca Dagang

Meskipun ekspor menurun, neraca perdagangan Indonesia tetap menunjukkan surplus. Surplus pada November 2025 diperkirakan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menjadikan surplus neraca perdagangan berlanjut selama 67 bulan berturut-turut.

Proyeksi median surplus mencapai US$3,06 miliar. Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi bulan Oktober 2025 sebesar US$2,39 miliar. Perkiraan tertinggi dan terendah menunjukkan tren surplus yang stabil meski ekspor kontraksi.

Kenaikan surplus didukung oleh penurunan impor yang lebih tajam daripada ekspor. Secara bulanan, impor turun 8,1% sementara ekspor menurun 5,31%. Penurunan impor terutama terjadi karena berkurangnya permintaan barang modal.

Kinerja Ekspor dan Impor Kumulatif

Secara kumulatif, nilai ekspor Januari–November 2025 mencapai US$256,7 miliar. Pertumbuhan ekspor tahunan sebesar 5,7% tetap solid. Peningkatan ini ditopang oleh komoditas bernilai tambah dan industri manufaktur.

Komoditas unggulan meliputi logam dasar, minyak kelapa sawit, kimia dasar, dan semikonduktor. Sektor-sektor ini berkontribusi besar terhadap stabilitas perdagangan luar negeri. Dampaknya terlihat dari surplus neraca perdagangan kumulatif yang mencapai US$38,7 miliar.

Impor pada periode yang sama mencapai US$218,1 miliar atau tumbuh 2,1%. Kinerja impor didorong oleh kebutuhan barang modal, termasuk mesin, peralatan, dan alat komunikasi. Hal ini mencerminkan aktivitas investasi dan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.

Dukungan Pertumbuhan Ekonomi

Meskipun ekspor bulanan turun, pertumbuhan kumulatif menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia. Surplus dagang berkelanjutan memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Hal ini penting untuk mendukung prospek investasi dan pembangunan industri domestik.

Kinerja ekspor dan impor juga menjadi indikator utama kesehatan sektor perdagangan. Surplus yang berkelanjutan menunjukkan kemampuan Indonesia menjaga neraca perdagangan meski menghadapi tekanan global. Kondisi ini penting bagi keberlanjutan pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

Peningkatan ekspor kumulatif menegaskan bahwa Indonesia mampu memanfaatkan permintaan global untuk komoditas strategis. Keberhasilan ini tercermin dari kinerja manufaktur dan energi yang tetap solid. Surplus neraca perdagangan menjadi modal penting untuk menjaga likuiditas ekonomi.

Optimisme di Tengah Tantangan

Ekonom melihat meskipun terjadi kontraksi bulanan, tren perdagangan Indonesia tetap positif. Surplus yang stabil menjadi bukti bahwa ekonomi mampu bertahan dari fluktuasi ekspor. Hal ini menambah optimisme terhadap pemulihan ekonomi nasional.

Tren pertumbuhan kumulatif yang solid membuka peluang investasi lebih luas. Pelaku usaha mendapatkan kepastian dalam menjalankan aktivitas perdagangan. Hal ini turut mendukung penciptaan lapangan kerja dan pembangunan sektor industri.

Secara keseluruhan, meski ekspor November 2025 mengalami kontraksi, neraca perdagangan tetap menunjukkan kekuatan. Surplus yang berkelanjutan menjadi indikator penting stabilitas ekonomi. Dengan dukungan sektor manufaktur dan komoditas bernilai tambah, prospek perdagangan Indonesia tetap optimis.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Lonjakan Serapan Beras Nasional Awal 2026 Buka Peluang Ekspor dan Kestabilan Pangan

Lonjakan Serapan Beras Nasional Awal 2026 Buka Peluang Ekspor dan Kestabilan Pangan

Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Februari 2026: Penurunan Pertamax Hingga Dexlite di Seluruh Indonesia

Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Februari 2026: Penurunan Pertamax Hingga Dexlite di Seluruh Indonesia

Pemerintah Mempertahankan Tarif Listrik Triwulan I Tahun 2026 Untuk Semua Golongan Non-Subsidi

Pemerintah Mempertahankan Tarif Listrik Triwulan I Tahun 2026 Untuk Semua Golongan Non-Subsidi

Harga Batu Bara Acuan Februari 2026 Naik, Pemerintah Tegaskan Strategi Produksi Berkelanjutan

Harga Batu Bara Acuan Februari 2026 Naik, Pemerintah Tegaskan Strategi Produksi Berkelanjutan

Proyeksi Harga Nikel 2026 Meningkat Tajam Akibat Pengetatan Produksi Indonesia

Proyeksi Harga Nikel 2026 Meningkat Tajam Akibat Pengetatan Produksi Indonesia