Harga Minyak Dunia Naik Tajam Akibat Geopolitik dan Gangguan Pasokan
- Senin, 26 Januari 2026
JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin pagi, 26 Januari 2026. Brent crude diperdagangkan di kisaran US$?66 per barel, sementara WTI berada di level US$?61,21 per barel.
Kenaikan ini menandai penguatan tipis dibandingkan penutupan sesi sebelumnya. Pasar menanggapi beberapa sentimen global yang memengaruhi pasokan minyak mentah dunia.
Faktor Geopolitik dan Potensi Gangguan Pasokan
Baca JugaStrategi Terbaru Pemerintah Perkuat Pendampingan UMK Menuju Wajib Halal 2026
Sentimen utama berasal dari meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran gangguan pasokan mendorong pelaku pasar meningkatkan permintaan kontrak minyak.
Meskipun beberapa pasokan teknis, seperti pipa ekspor dari Kazakhstan, telah pulih, investor masih waspada terhadap risiko volatilitas harga. Kondisi ini membuat harga Brent dan WTI tetap berada di zona penguatan.
Geopolitik global kini menjadi salah satu indikator utama pergerakan harga minyak. Ketidakpastian politik dan konflik di wilayah penghasil minyak memicu pasar untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan suplai.
Tren Mingguan dan Momentum Kenaikan
Dalam satu minggu terakhir, kedua acuan mencatat penguatan sekitar 2,7%. Momentum ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang stabil sejak sesi perdagangan sebelumnya.
Brent crude sebagai acuan global terus mendapatkan tekanan positif dari ekspektasi pasokan terbatas. Sementara WTI, patokan utama AS, mengikuti pergerakan yang serupa karena permintaan domestik dan ekspor yang meningkat.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa harga minyak dunia masih berpotensi bergerak naik dalam beberapa sesi mendatang. Namun, pelaku pasar tetap menunggu informasi tambahan terkait produksi OPEC dan pasokan cadangan strategis global.
Dampak Bagi Pasar dan Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya energi dan transportasi di berbagai negara. Negara-negara pengimpor minyak harus menyesuaikan anggaran subsidi energi akibat lonjakan harga ini.
Sektor industri juga merasakan tekanan karena harga bahan baku energi meningkat. Hal ini dapat memicu inflasi dan memengaruhi daya beli masyarakat jika harga minyak terus bertahan di level tinggi.
Investasi di sektor energi menjadi lebih menarik karena potensi keuntungan dari harga minyak yang menguat. Perusahaan eksplorasi dan produksi minyak cenderung meningkatkan aktivitas untuk memanfaatkan momentum harga tinggi.
Para analis menyarankan pemerintah dan pelaku industri untuk tetap memantau perkembangan geopolitik. Ketidakpastian di Timur Tengah dan gangguan teknis lainnya tetap menjadi risiko yang bisa memicu fluktuasi harga minyak secara cepat.
Dengan kondisi ini, pasar minyak global masih akan menghadapi volatilitas hingga situasi geopolitik stabil. Pemantauan terus-menerus terhadap produksi, ekspor, dan permintaan menjadi kunci bagi investor dan pengambil kebijakan.
Nathasya Zallianty
wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Revolusi Layanan BPJS Kesehatan Melalui Empat Inovasi Canggih Berbasis Kecerdasan Buatan
- Rabu, 04 Februari 2026
10 Tempat Makan 24 Jam di Bandung yang Wajib Dikunjungi Para Pecinta Kuliner Malam
- Rabu, 04 Februari 2026
12 Ide Kegiatan Sosial di Bulan Ramadhan yang Bisa Dilakukan Semua Orang
- Rabu, 04 Februari 2026
Berita Lainnya
Lonjakan Serapan Beras Nasional Awal 2026 Buka Peluang Ekspor dan Kestabilan Pangan
- Rabu, 04 Februari 2026
Proyeksi Harga Nikel 2026 Meningkat Tajam Akibat Pengetatan Produksi Indonesia
- Rabu, 04 Februari 2026
Terpopuler
1.
2.
Panduan Lengkap Cara Bayar iCloud dengan Mudah dan Cepat
- 04 Februari 2026
3.
Cara Membuat Akun Telegram dengan Mudah plus Cara Login
- 04 Februari 2026













