Harga Minyak Dunia Turun Tipis, Pasar Tunggu Hasil Negosiasi Dagang AS China
- Rabu, 11 Juni 2025
JAKARTA - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tipis pada perdagangan terbaru, meskipun tetap bertahan di level tertinggi dalam tujuh minggu terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar yang menunggu hasil akhir pembicaraan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia: Amerika Serikat (AS) dan China.
Berdasarkan data terkini, harga minyak mentah berjangka Brent turun sebesar 17 sen atau 0,3 persen, menjadi US$ 66,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) milik AS mengalami penurunan sebesar 31 sen atau 0,5 persen, menjadi US$ 64,98 per barel.
Harga Brent telah menyentuh level tertinggi sejak 22 April, sedangkan WTI mencapai puncak tertingginya sejak 3 April. Penurunan ini dianggap sebagai koreksi wajar pasar, menyusul optimisme yang masih tinggi terhadap tercapainya kesepakatan dagang antara Washington dan Beijing.
Baca Juga
Ketegangan Dagang Pengaruhi Harga Energi Global
Para analis meyakini bahwa tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan China dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi global dan mendorong peningkatan permintaan terhadap komoditas energi, termasuk minyak mentah.
"Jika kesepakatan tercapai, itu akan menjadi kabar baik tidak hanya untuk kedua negara, tetapi juga untuk pasar global yang selama ini dibayangi ketidakpastian," ujar salah satu analis pasar energi dari New York, seraya menambahkan bahwa “perdagangan yang stabil akan mendorong aktivitas manufaktur dan distribusi, yang pada akhirnya meningkatkan konsumsi energi.”
Negosiasi Dagang Berlangsung Intensif
Pembicaraan dagang antara delegasi AS dan China dilaporkan berlangsung intensif selama dua hari penuh hingga malam hari di London. Kedua belah pihak dikabarkan masih menyusun kesepahaman mengenai kontrol ekspor yang selama ini menjadi titik sengketa utama dalam perundingan.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengungkapkan bahwa diskusi berjalan cukup produktif. "Pembicaraan dagang dengan pejabat China berjalan dengan baik. Kami berharap semuanya bisa selesai pada hari kedua, meski saya tidak menutup kemungkinan akan dibutuhkan lebih banyak waktu," ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan ini memberikan secercah harapan bagi para pelaku pasar bahwa ketegangan dagang yang selama ini menekan pertumbuhan ekonomi global bisa segera mereda.
Dampak Ketidakpastian Global
Sementara itu, Bank Dunia mengeluarkan laporan yang memperingatkan bahwa ketegangan dagang dan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Trump memberikan tekanan besar terhadap ekonomi dunia. Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2025 sebesar 0,4 poin menjadi 2,3 persen.
"Tarif tinggi dan ketidakpastian yang terus meningkat telah menciptakan hambatan signifikan bagi hampir semua negara," tulis laporan Bank Dunia. Hal ini dianggap turut memengaruhi sentimen investor serta mendorong volatilitas di pasar energi global.
Dampak bagi Konsumen dan Pelaku Industri
Kondisi harga minyak yang relatif tinggi meskipun mengalami penurunan, masih menjadi perhatian bagi pelaku industri dan konsumen. Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi biaya produksi, logistik, dan harga bahan bakar di tingkat konsumen. Di sisi lain, bagi negara-negara produsen minyak, harga yang tinggi memberikan keuntungan dalam bentuk peningkatan pendapatan ekspor.
Namun demikian, jika pembicaraan dagang gagal mencapai titik temu, para analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa kembali mengalami tekanan. Pasalnya, ketidakpastian yang berkelanjutan dapat membatasi pertumbuhan permintaan di sektor energi.
Outlook Pasar Minyak ke Depan
Pasar minyak global masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah, keputusan OPEC+ mengenai kebijakan produksi, serta tentu saja perkembangan terakhir dalam hubungan dagang AS-China.
“Pasar saat ini bergerak berdasarkan ekspektasi, bukan realitas. Semua bergantung pada hasil akhir dari perundingan dagang,” ujar seorang analis dari London.
Dengan harga minyak yang bertahan di kisaran tertinggi mingguan, investor dan pengamat pasar akan terus mencermati setiap perkembangan negosiasi antara Washington dan Beijing dalam beberapa hari mendatang.
Nathasya Zallianty
wartaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Danantara Indonesia Dorong PT PAL dan INKA Jadi Motor Utama Hilirisasi Baja Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Resep Nugget Udang Homemade Anti Pengawet, Gurih, dan Mudah Dibuat
- Kamis, 05 Februari 2026
Cara Praktis Membuat Es Mambo Kacang Merah yang Segar dan Lezat di Rumah
- Kamis, 05 Februari 2026
4 Resep Olahan Pisang Praktis dan Lezat untuk Menu Buka Puasa di Rumah
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
Pemerintah Tuntaskan Keadilan Transmigran dengan Penerbitan Ribuan Sertifikat Hak Milik
- Kamis, 05 Februari 2026
Kemenhub Perkuat Bandara Sebagai Pusat Respon Bencana dan Mobilisasi Kemanusiaan
- Kamis, 05 Februari 2026
Industri Manufaktur Indonesia Catat Pertumbuhan Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19 Pada 2025
- Kamis, 05 Februari 2026
Kementerian UMKM Dorong Usaha Rakyat Terlibat Langsung di Sektor Pertambangan
- Kamis, 05 Februari 2026













